Dakwah, Ipari News, Warta Ipari

Ustadz Abu Ni’am: Penyuluh Agama Islam yang Menginspirasi Lewat Terapi Bekam


IPARINGAWI – Penyuluh Agama Islam tidak hanya berperan dalam dakwah dan bimbingan keagamaan, tetapi juga dalam pemberdayaan umat melalui berbagai inovasi. Salah satu sosok inspiratif adalah Ustadz Abu Nia’am, Penyuluh Agama Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi. Selain aktif berdakwah, ia juga dikenal sebagai praktisi terapi bekam yang mengembangkan pengobatan berbasis sunnah di tengah masyarakat.

Dalam wawancara dengan tim media IPARI Ngawi pada 16 Maret 2025, Ustadz Abu Nia’am mengisahkan perjalanan awalnya sebagai penyuluh. Sepulang dari pondok pesantren pada 2018, ia mulai mengabdi sebagai marbot di Masjid Hasanatain Weru Sidokerto serta membentuk Majelis Taklim dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Dalam waktu kurang dari setahun, majelis tersebut berkembang pesat dan mendapat respons positif dari masyarakat. Pada akhir 2019, ketika rekrutmen Penyuluh Agama Islam di KUA Karangjati dibuka, ia mengikuti seleksi dan berhasil lolos hingga tahap akhir.

Minatnya terhadap terapi bekam bermula dari wasiat almarhum ayahnya agar ia mendalami ilmu thibbun nabawi. Ia kemudian mempelajari kitab Mujarrobat Dairobi Kabir, yang semakin memperkuat ketertarikannya pada pengobatan ala Nabi. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan ruqyah, bekam, dan gurah di Jombang, Jawa Timur, serta mendalami keilmuan ini di berbagai daerah seperti Bojonegoro, Tuban, Caruban, hingga Ngawi. Dengan tekun mempelajari literatur, modul, dan artikel terkait standar operasional prosedur (SOP) serta titik terapi bekam, ia akhirnya menguasai teknik pengobatan ini secara bertahap.

Masyarakat menyambut baik terapi bekam yang ia praktikkan. Selain manfaatnya yang langsung dirasakan, ia juga tidak mematok tarif tertentu sehingga terapi ini dapat diakses oleh semua kalangan.

“Alhamdulillah, banyak masyarakat yang terbantu dengan bekam,” ujar Ustadz Abu Nia’am. “Mereka bisa mendapatkan manfaat kesehatan tanpa terbebani biaya tinggi.”

Salah satu pasiennya, Rahmad, berbagi pengalaman positifnya. “Saya sering mengalami sakit kepala dan pegal-pegal, tetapi setelah rutin melakukan bekam, badan terasa lebih ringan dan bugar.”

Selain bekam, Ustadz Abu Nia’am juga memanfaatkan metode ruqyah sebagai ikhtiar kesembuhan dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, ruqyah tidak hanya berfungsi sebagai terapi kesehatan, tetapi juga sebagai sarana dakwah untuk memperkuat keyakinan umat terhadap mukjizat Al-Qur’an.

“Ruqyah bisa menjadi solusi bagi penyakit medis maupun nonmedis. Lebih dari itu, ini juga menjadi media dakwah yang efektif karena pasien diajak untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, menjaga salat, dan mengontrol emosi,” jelasnya.

Dalam pandangan Ustadz Abu Nia’am, ada keterkaitan erat antara dakwah dan kesehatan. Ia menilai bahwa saat seseorang mengalami perbaikan kondisi fisik dan mental melalui terapi bekam atau ruqyah, hatinya lebih terbuka untuk menerima nasihat dan ajakan kebaikan.

“Ketika seseorang merasa lebih sehat, mereka cenderung lebih mudah menerima nasihat agama. Ini menjadi momentum dakwah yang sangat berharga,” katanya.

Untuk memperluas manfaat pengobatan thibbun nabawi, Ustadz Abu Nia’am merancang program bakti sosial terapi kesehatan berbasis sunnah. Ia dan timnya secara rutin berkeliling ke berbagai kecamatan di Kabupaten Ngawi, memberikan edukasi serta layanan bekam dan ruqyah gratis. Informasi program ini disebarluaskan melalui media sosial dan grup WhatsApp agar lebih banyak masyarakat dapat mengaksesnya.

Meski mendapat respons positif, ia mengakui bahwa masih ada tantangan dalam mengenalkan terapi bekam dan ruqyah. Salah satunya adalah persepsi masyarakat yang masih menganggap ruqyah hanya untuk orang yang kesurupan atau terkena gangguan sihir. Begitu pula dengan bekam yang masih dikaitkan dengan rasa sakit akibat tusukan jarum.

“Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat. Padahal, ruqyah dan bekam adalah terapi yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai bentuk ikhtiar kesembuhan,” ungkapnya.

Sebagai seorang penyuluh, Ustadz Abu Nia’am berharap agar rekan-rekan sesama Penyuluh Agama Islam lebih aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang kesehatan berbasis sunnah. Ia menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat yang sesuai dengan ajaran Islam, mulai dari adab makan, minum, tidur, hingga menjaga kebersihan.

“Jika sudah terlanjur sakit, jangan lupakan Al-Qur’an sebagai sarana pengobatan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 80: ‘Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.’ Juga dalam QS. Al-Isra ayat 82: ‘Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.'”

Dengan semakin banyaknya inovasi dalam dakwah, Ustadz Abu Nia’am berharap para penyuluh agama dapat lebih berperan aktif dalam membangun masyarakat yang sehat, religius, dan berkualitas. (MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *