Dakwah, Ipari News, Lintas Daerah, Organisasi, Warta Ipari

35 Penyuluh Agama Islam Ngawi Perkuat Kerukunan Umat Beragama melalui Pelatihan Blended Learning


IPARINGAWI.COM, Ngawi
– Sebanyak 35 penyuluh agama Islam dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ngawi mendapatkan kesempatan berharga untuk memperkuat peran mereka dalam menjaga harmoni kehidupan beragama. Mereka mengikuti Pelatihan Blended Learning Kerukunan Umat Beragama yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Program ini dirancang untuk meningkatkan wawasan serta keterampilan penyuluh dalam menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama di tengah masyarakat yang beragam.

Pelatihan ini mengusung metode blended learning, yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring guna memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif. Pada tahap pertama, peserta mengikuti sesi daring dari tempat kerja masing-masing pada 10–13 Maret 2025. Kemudian, mereka akan mengikuti sesi klasikal secara langsung di MAN 1 Ngawi pada 19–21 Maret 2025. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk menyerap materi secara fleksibel sekaligus mendapatkan pengalaman interaktif dalam diskusi dan simulasi langsung.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngawi, Moh. Ersat, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas penyuluh agama sebagai jembatan moderasi beragama. “Sebagai garda terdepan dalam pembinaan keagamaan, penyuluh harus memiliki pemahaman yang luas dalam membangun toleransi, mengelola perbedaan, serta mencegah potensi konflik dengan pendekatan yang bijaksana dan damai,” ungkapnya.

Para peserta yang berasal dari berbagai Kantor Urusan Agama (KUA) di Ngawi nantinya akan mengimplementasikan ilmu yang mereka peroleh dalam membimbing masyarakat agar tetap menjaga kerukunan, terutama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, mereka diharapkan mampu menjadi agen perdamaian yang aktif dalam menanamkan nilai-nilai keberagaman dan kebersamaan di lingkungan masing-masing.

Pelatihan ini juga merupakan bagian dari program strategis Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Dengan meningkatnya pemahaman penyuluh agama tentang pentingnya harmoni dalam keberagaman, mereka diharapkan mampu berperan lebih efektif dalam merawat kebersamaan, baik di kalangan internal umat Islam maupun dalam interaksi dengan pemeluk agama lain.

Sebagai ujung tombak pembinaan keagamaan, penyuluh agama memiliki peran krusial dalam meredam potensi konflik sosial dan membangun semangat persatuan. Dengan bekal dari pelatihan ini, mereka tidak hanya menjadi juru dakwah, tetapi juga mediator yang dapat menjembatani perbedaan serta memperkuat ikatan sosial demi terwujudnya masyarakat yang damai, harmonis, dan inklusif. (MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *